Tujuan Silat bagi Ulama-ulama Minang di Masa Lalu

Tujuan Silat bagi Ulama-ulama Minang di Masa Lalu
Foto @Ijot Goblin

Tujuan Silat

Dahulu, seorang ulama di Minangkabau lazim memiliki kemahiran silat (silek). Sebutlah nama seperti Syekh Bustami Lintau, Syekh Abdullah Halaban, Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango, Syekh Jamil Jaho, Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus, Syekh Yahya al-Khalidi Magek, Syekh Mahmud Abdullah Tarontang, dan lain-lain. Selain mahir memaparkan soal agama, mensurah kitab, mengi’rab kalimat Arabi, mereka juga dikenal sebagai pendekar ternama.

Baca Juga: Dari Silaturrahmi ke Lukisan Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango

Menurut alm. Syekh Yunus Yahya Magek, kepandaian silat yang dimiliki oleh ulama tersebut, memiliki 2 tujuan:

(1) sebagai jalan dakwah, terutama bagi yang muda-muda.

(2) menambah muru’ah keulamaan.

Salah satu silek yang populer di kalangan ulama tersebut, adalah Silek Kumango, yang dinisbahkan pada al-‘Arif billah Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango, murid dari Sayyid Muhammad Amin Ridhwan Madinah. Salah satu sebabnya, karena esensinya yang merupakan ajaran agama. Mulai dari langkah Mim Ha Mim Dal, hingga syarat bahwa peserta silek mesti melaksanakan salat. Ini bukan berarti menafikan silek-silek yang lain.

Kekhasan lain, silek ini semata pertahanan diri, membela diri, sehingga tidak bisa dipertandingkan. Syekh Kumango mengajarkan filosofi “Zohia (zahir) silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan.” Kata “mencari Tuhan” itu, sebagaimana diajarkan guru, bersua pada Tarekat Samman yang menjadi amal dalam silek ini.

Namun sekarang silek tradisi, termasuk silek yang dipakai oleh ulama-ulama besar itu, dianggap oleh sementara kalangan sebagai silek memakai jin/sihir. Sebuah tuduhan yang, hemat saya, tidak berdasar. Maka mulailah terkikis pusaka lama; beransur pudar ilmu yang diajarkan ulama itu.

Baca Juga: Keramat Syekh Bustami Lintau

Di sinilah pentingnya kita, terutama kawan sesurau; di samping giat dalam membedah kitab, berdakwah, juga semestinya mengambil peran dalam melestarikan silek, silek peninggalan ulama-ulama besar kita itu. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Apria Putra
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota