Ziarah Makam KH. Muhammad Jaddawi bin Abu Bakar Syarifuddin

Ziarah Makam KH. Muhammad Jaddawi bin Abu Bakar Syarifuddin
Foto Makam KH. Muhammad Jaddawi bin Abu Bakar Syarifuddin. Dok. Penulis

KH. Muhammad Jaddawi bin Abu Bakar Syarifuddin merupakan Mudir ke IX Pondok Pesantren Sa’adatuddarein, Tahtul Yaman, Pelayangan, Jambi. Sedangkan ayahnya yakni, Syekh Abu Bakar Syarifuddin adalah mudir ke-3 Pondok Pesantren Sa’adatuddarein. Sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh KH. Ahmad Syakur bin Syukur, pada tahun 1915 M.

KH. Muhammad Jaddawi bin Abu Bakar Syarifuddin pernah menempuh pendidikan di Madrasah al-Falah, Makkah. Sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh Syekh Muhammad Ali Ridha Zainal (w. 1969 M) pada tahun 1323 H/1905 M. Sebagaimana dilangsir laman falahschools.wordpress.com, yang mana menyebutkan nama-nama alumni Madrasah al-Falah dari tahun 1337 H s/d 1433 H. Di antaranya terdapat nama KH. Muhammad Jaddawi. Disebutkan bahwa beliau lulus dengan predikat “Mumtaz” (cumlaude). Jadi sangat wajar kalau beliau ini mengusai empat bahasa: Bahasa Arab, Inggris, Jerman dan Belanda, sebagaimana yang tertulis dalam Majalah Medium Edisi 45, (2005).

Selain itu disebut pula dalam website tersebut nama lain, pelajaran dari Jambi di Madrasah Al-Falah. Nama tersebut adalah: Hasan Jambi, Ibrahim Jambi, Shalih Jambi, Zaini Jambi, Muhammad Khatib Jambi dan Muhammad Umar Jambi.

Madrasah al-Falah sendiri telah banyak melahirkan para ulama. Sebut saja, Sayyid Alwi al-Maliki, Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi, Sayyid Ahmad Syatha, Sayyid Hasan Syatha dll. Sementara ayahya yakni, Syekh Abu Bakar Syarifuddin pernah juga, menuntut ilmu di Makkah.

Baca Juga: Syekh Abdus Somad Jambi: Imam Masjidil Haram dari Jambi

Memang dimasa itu penuntut ilmu dari Jambi maupun Nusantara tak lepas dari belajar dan mengajar di Masjidil Haram, Madrasah Saulatiyah yang didirikan oleh Syekh Rahmatullah Ibnu Khalil al-Hindi al-Dahlawi, Madrasah al-Falah oleh Syekh Muhammad Ali Ridha Zainal, Madrasah al-Fakhriyyah oleh Syekh Abd al-Haq Qori, Madrasah Darul Ulum oleh Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa dan lembaga pendidikan lainnya.

Diantara gurunya Syekh Abu Bakar Syarifuddin saat di Makkah adalah: Syekh Abdurrahman Ya’qub (Tuan Guru Reteh) (w. 1391 H), Syekh Hasan al-Masyath (w. 1399 H) yang mana dalam kitabnya yang berjudul: “الجواهر الثمينة في بيان أدلة عالم المدينة”menyebutkan bahwa muridnya ini yakni, Syekh Abu Bakar Syarifuddin, pernah menyarahi karya kitabnya التحفة السنية في أحوال الورثة الأربعينية dalam betuk nadzham dan kitab tersebut diberi nama: التحفة المرضية.

Sebelum ziarah ke makam KH. Muhammad Jaddawi, saya sempat mampir di toko kitab Pondok Pesantren Sa’adatuddarein dan membeli kitab karya guru-guru pondok tersebut. Diantaranya karya KH. Abu Bakar bin Syarifuddin, KH. Abdul Qodir bin Mahyuddin, KH. Abdullah Syargawi bin Ahmad Syakur (Guru Sidol) dan sebuah kitab yang pernah diajarkan KH. Muhammad Jaddawi, yang mana kitab tersebut dikumpulkan (dihimpun) oleh sekretaris beliau yakni, KH. Muhammad Alawi bin Abd. Somad yang merupakan seorang guru di Pondok Pesantren Sa’adatuddarein. Sebagaimana tertulis dalam halaman sampul kitab:

اين كتاب برنما تجهيز الميت
درس مستفاد من دروس الشيخ الفاضل المرحوم احمد جداوي بن ابو بكر، وجمعه الشيخ الفاضل المرحوم محمد علوي بن عبد الصمد نفعنا الله به‍ما وبعلومهما في الدارين. أمين

(Ini kitab bernama Tajhizul Mayit, pelajaran yang bermanfaat dipetik dari pelajaran As-Syekh al-Fadhil al-Marhum Ahmad Jaddawi bin Abu Bakar Syarifuddin dan dikumpulkan (dihimpun) oleh As-Syekh al-Fadhil al-Marhum KH. Muhammad Alawi bin Abd. Somad).

Saya sempat membaca bagian mukadimah kitab tersebut, saat ziarah di makam beliau. Sebagaimana berikut :

احوال كماتيان مك ه‍نداقله بربايق-بايق صبر اورغيغ كماتيان ايت منريما تقدير الله تعالى دان مغوجف : “إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ‎”.

دان ايغتله بهوا سكالين يغ ادا ددلم دنيا اين فستيله ماتي دان برجمفاله كماتيان دان دلراغ اوله شراع مراتف٢ اتو مموكول دان سؤمفماث. مك سمواث ايت فكرجائن يغ امت كجي دان دموركائى اوله الله دان رسولث دان تيدا مغاف مناغيس يغ كسديه‍ن ساج دان سنة ممبايقكن ممباج القرآن دان تهليل ده‍ديهكن فه‍لاث كفدا ميت ايت. دان جاغنله بربايق-بايق جاكف يغ تيدا بركتنتوان دان ترتاوا-تاوا فدا تمفت كماتيان ايت بهوا مغه‍يبور ه‍اتي اه‍لى كماتيان ايت لالو ممباج : “بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ، اعظم الله اجركم واحسن عزائكم وغفر لميتكم”.

(Ihwal kematian, maka hendaklah berbanyak-banyak sabar orang yang kematian itu. Menerima takdir Allah swt, dan mengucap: (إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ‎)

Dan ingatlah bahwa sekalian yang ada di dalam dunia ini, pastilah mati dan berjumpalah kematian, dan dilarang oleh Syara’ meratap-ratap atau memukul dan seumpamanya (Niyahah). Maka semuanya itu pekerjaan yang amat keji dan dimurkai oleh Allah dan Rasulnya, dan tiada mengapa menangis yang kesedihan saja, dan sunah membanyakkan membaca al-Qur’an dan Tahlil, dihadiahkan pahalanya kepada mayat itu. Dan janganlah berbanyak-banyak cakap yang tiada berkententuan dan tertawa-tawa pada tempat kematian itu, bahwa menghibur hati ahli kematian itu lalu membaca: (بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ، اعظم الله اجركم واحسن عزائكم وغفر لميتكم).

Dalam buku Kumpulan Peraturan-Peraturan Untuk Pemilihan Konstituante, menyebutkan nama-nama tokoh NU dari Jambi tahun 1955 M. Diantaranya terdapat nama KH. Muhammad Jaddawi, KH. Kemas Abdussamad bin Kemas Hasan, KH. Abdul Qodir bin Ibrahim, KH. Abdurrani bin H. Jasin, H. Muhammad Zen Ahmad, Ahmad Chatib Halim dan Ahmad Sukaini, dua nama terakhir berasal dari Sungai Penuh, Kerinci, Jambi.

Baca Juga: Syekh Abdul Wahid Jambi

Diantara murid-murid KH. Muhammad Jaddawi, adalah: KH. Ahya’uddin bin Syekh Anwar, KH. Habibullah Hamdan, dan KH. Bukroni Hamid, BA, dll. Ketiganya merupakan seorang guru di Pondok Pesantren Nurul Islam, Seribandung, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Adapun mata pelajaran yang diajarkan di Pondok Pesantren Sa’adatuddarein era KH. Bukroni Hamid, BA diantaranya: Tafsir (Jalalain karya Syekh Jalaluddin Al-Mahalli & Syekh Jalaluddin As-Shuyuthi), Hadits (Riyadh ash-Shalihin karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi (Imam Nawawi), Tauhid (ad-Dasuqi karya Syekh Ibrahim Ad-Dasuqi), Fiqh (Fath al-Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibari), Ushul al-Fiqh (Lubb al-Ushul karya Syekh Zakariya al-Anshori), Qawa’id al-Fiqhiyah (Muqtathafat), Nahwu (Ibnu ‘Aqil karya Syekh Bahauddin Abdullah), Balaghah (Jawhar al-Maknun karya Syekh Abdurrahman al-Akhdhari), Ilmu Akhlaq (Minhaj al-‘Abidin karya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali), Ushul al-Hadits (Dhau’ al-Qamar), Mantiq (Isaghuji karya Syekh Atsiruddin Mufadhal bin Umar al-Abhari).[]

Waallahu ‘Alam
Jambi, 18 Maret 2021

Muhammad Al-Adzro'iy
Seorang santri yang ernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang Jatim